This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 13 November 2012

Penipu Keluarga Bangsawan Diganjar Penjara


Penipu Keluarga Bangsawan Diganjar Penjara

Penipu Keluarga Bangsawan Diganjar Penjara

Rabu, 14 November 2012 | 08:13 WIB

Dibaca:

AFP

Keluarga Vedrines sampai sempat pindah ke sebuah apartemen di Oxford, Inggris.

BORDEAUX, KOMPAS.com - Seorang pria yang menipu satu keluarga bangsawan Perancis untuk menguras kekayaannya diganjar hukuman delapan tahun penjara. Tahun 1999, Thierry Tilly mengatakan kepada Ghislane de Vedrines dan sepuluh anggota keluarganya bahwa mereka membutuhkan perlindungan.

Keluarga de Vedrines kemudian hidup terasing di kastil mereka selama hampir sepuluh tahun dari tahun 2000 hingga 2009 sementara Tilly menjual rumah dan barang-barang mereka, seperti dilaporkan wartawan BBC, Tom Esslemont.

Dari aksinya itu, Tilly yang berusia 48 tahun itu berhasil mengumpulkan kekayaan sebesar 5,7 juta dollar AS (Rp 54,6 miliar).

Hakim di kota Bordeaux, Selasa 13 Noevmber, memutuskan Tilly bersalah dalam dakwaan penyiksaan psikologis dan pemenjaraan orang. Seorang rekan yang membantu penipuan itu, Jacques Gonzalez, diganjar empat tahun penjara.

Saat mendekati keluarga de Vedrines, dia mengaku sebagai agen rahasia dan mengatakan bahwa keluarga itu menjadi sasaran dari satu komplotan internasional dan hanya dia yang bisa mengalahkannya.

Agak gila

Kasus ini mulai menjadi perhatian ketika petugas pajak Perancis menyita kastil milik keluarga itu karena tidak membayar pajak lagi.

Setelah menjual kastil itu, Tilly kemudian membawa keluarga de Vedrines bersembunyi di sebuah apartemen di Oxford, Inggris. Salah seorang anggota keluarga de Vedrines akhirnya berhasil melarikan diri dan pada tahun 2009, Tilly berhasil ditangkap di Swiss.

Tim penasehat hukum Tilly mengajukan pembelaan dengan mengatakan bahwa keluarga bangsawan asal Bordeaux itu -yang berusia 16 hingga 89 tahun- bersembunyi sesuai dengan keinginan sendiri.

Disebutkan pula bahwa kliennya mungkin agak gila dan memohon pengampunan namun hakim menolak permintaan itu.

Editor :

Egidius Patnistik


Skandal Petraeus Meluas


WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Penyelidikan atas skandal perselingkuhan mantan Direktur CIA, David Petraeus, terus berkembang dan mengungkapkan sejumlah fakta baru yang mengejutkan. Makin banyak pejabat tinggi dan lembaga pemerintah AS yang diduga terlibat dan kini disorot.

Fakta baru yang terungkap hari Selasa (13/11) menunjukkan, skandal juga melibatkan Jenderal John R Allen, jenderal bintang empat aktif di jajaran Korps Marinir AS yang menggantikan Petraeus sebagai komandan pasukan koalisi internasional di Afganistan.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan AS mengatakan, berdasarkan penyelidikan Biro Investigasi Federal AS (FBI), Allen diketahui berkomunikasi secara intens dengan Jill Kelley (37), perempuan warga Tampa, Florida. Kelley-lah yang pertama melapor kepada FBI soal surat-surat elektronik (surel) bernada mengancam dari pacar gelap Petraeus, yang kemudian mengungkap skandal tersebut.

FBI mengungkap sedikitnya ada 20.000-30.000 halaman korespondensi antara Allen dan Kelley dalam bentuk surel pada periode 2010- 2012. Kedua orang itu berkirim rata-rata 30 halaman surel per hari.

Belum jelas benar apa isi komunikasi yang sangat intens tersebut. Saat ditanya apakah ada kemungkinan kebocoran rahasia sensitif, pejabat tersebut hanya mengatakan, komunikasi kedua orang itu ”tidak pantas”. ”Kami prihatin dengan komunikasi yang tidak pantas ini. Kami tak akan berspekulasi mengenai isi dokumen-dokumen yang mereka pertukarkan itu,” tutur pejabat yang tidak disebutkan namanya itu.

Meski demikian, intensitas komunikasi Allen dan Kelley itu menimbulkan pertanyaan. Paling tidak, Allen telah menghabiskan banyak waktu untuk membalas surel Kelley tiap hari.

Promosi ditunda

Allen telah ditunjuk untuk dipromosikan sebagai Panglima Tertinggi Pasukan NATO di Eropa, dan tinggal menunggu persetujuan Senat AS. Namun, menurut Menteri Pertahanan AS Leon Panetta, penunjukan itu ditunda sementara sambil menunggu hasil penyelidikan skandal ini.

Menurut Panetta, Presiden Barack Obama telah setuju dengan penundaan penunjukan Allen di posisi baru tersebut.

Kelley adalah istri seorang dokter bedah kanker di Tampa, dan menjadi semacam petugas hubungan masyarakat tak resmi Pangkalan Udara MacDill di Tampa. Ia dan suaminya menjadi teman keluarga Petraeus sejak jenderal bintang empat itu menjadi Panglima Komando Tengah Angkatan Bersenjata AS (US CENTCOM), yang bermarkas di Pangkalan MacDill.

Belum jelas kapan Kelley mengenal Allen. Namun, Allen juga pernah bertugas di MacDill sebagai Wakil Panglima US CENTCOM selama tiga tahun sebelum bertugas di Afganistan tahun 2011.

Sementara itu, para penyelidik FBI menggeledah rumah Paula Broadwell (40), penulis buku biografi Petraeus yang kemudian menjadi pasangan selingkuhnya. Penggeledahan itu dilakukan selama dua jam, Senin malam waktu setempat, di rumah Broadwell di Charlotte, North Carolina.

Sejumlah saksi mata mengatakan, para agen FBI mengambil foto-foto, kemudian meninggalkan rumah itu dengan membawa beberapa kotak dan kantong berisi barang bukti.

Dalam perkembangan lain, seorang penyelidik FBI juga menjadi obyek penyelidikan setelah membocorkan kasus ini kepada dua anggota DPR AS. Agen FBI tersebut adalah teman Kelley dan menjadi orang pertama yang mendapat laporan soal surel- surel bernada mengancam dari Broadwell.

Belakangan, agen itu dibebastugaskan dari penyelidikan kasus ini karena dianggap ”terobsesi”. Menurut FBI, dia diketahui pernah mengirimkan fotonya dalam keadaan tanpa baju kepada Kelley. (AFP/AP/Reuters/DHF)

Editor :

Egidius Patnistik

Skandal Petraeus Meluas

Petisi untuk Memisahkan Diri dari AS


Petisi untuk Memisahkan Diri dari AS

Petisi untuk Memisahkan Diri dari AS

Rabu, 14 November 2012 | 07:33 WIB

Dibaca:

BBC

Konsitusi AS tidak memiliki ketentuan tentang pemisahan negara bagian.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Lebih dari 100.000 warga Amerika Serikat mengirim petisi ke Gedung Putih. Mereka meminta negara bagian tempat tinggal mereka memisahkan diri dari AS.

Mereka menyampaikan petisi itu ke situs internet We the People yang dikelola Gedung Putih setelah terpilihnya kembali Presiden Barack Obama dalam pemilihan Selasa 6 November pekan lalu.

Totalnya tercatat 20 petisi yang masuk dan salah satunya adalah dari negara bagian Texas, yang ditandatangani oleh 25.000 warga. Jumlah penandatangan itu mencapai batas ambang yang menurut Gedung Putih akan mendapat tanggapan.

Sebagian besar dari mereka yang mengajukan petisi memilih calon dari Partai Republik, Mitt Romney, dalam pemilihan presiden. Hasil pemilihan di negara bagian Texas memilih Romney dengan selisih 15 persen dibanding dengan suara untuk Obama.

Tidak diatur konstitusi

Banyak yang mengutip preambul Pernyataan Kemerdekaan Amerika dari Inggris, yang menurut pendiri negara sebagai hak mereka untuk 'menghentikan keterkaitan politik' dan membentuk negara baru. Namun petisi dari negara bagian Texas mengeluhkan terjadinya 'pelanggaran terang-terangan' atas hak-hak warga Amerika Serikat.

Petisi itu menyebut Otoritas Keamanan Transportasi dengan menuduh para stafnya melakukan pemeriksaan yang mengganggu di bandara-bandara.

Konstitusi Amerika Serikat tidak mencakup ketentuan bagi negara bagian untuk memisahkan diri dan hingga Senin (12/11) Gedung Putih belum memberikan tanggapan.

Upaya pemisahan negara bagian pada pertengahan 1800-an memicu perang saudara di Amerika Serikat

Editor :

Egidius Patnistik


Parlemen Somalia Setujui Pemerintah Baru


Parlemen Somalia Setujui Pemerintah Baru

Rabu, 14 November 2012 | 02:42 WIB

Parlemen Somalia Setujui Pemerintah Baru

Dibaca:

Parlemen Somalia Setujui Pemerintah Baru Seorang prajurit tentara Somalia berjaga di luar kota Mogadishu jelang pemilihan presiden negeri yang dicengkeram perang itu.

MOGADISHU, KOMPAS.com - Parlemen baru Somalia, Selasa (13/11/2012), menyetujui 10 menteri yang ditunjuk oleh Perdana Menteri Abdi Farah Shirdon Said. Kesepuluh anggota kabinet itu termasuk dua menteri wanita, satu diantaranya Fowsiyo Yusuf Haji Adan, perempuan yang pertama kali menjadi Menteri Luar Negeri dari wilayah independen Somaliland.

"Anggota-anggota parlemen menyetujui kabinet baru dengan suara mayoritas, 219 dari 225 anggota yang menghadiri sidang dan memberikan suara ’ya’ untuk kabinet baru itu," kata Ketua Parlemen Mohamed Osman Jawari.

Sementara, tiga orang menyatakan menolak, dan tiga orang abstain saat pengambilan keputusan. "Anggota-anggota parlemen telah menyetujui kabinet baru itu dan kini mereka harus menghadapi tugas-tugas sulit di depan," kata anggota parlemen Aweys Al-Qarni, kepada AFP.

Sebelumnya, Perdana Menteri Abdi Farah Shirdon Said mengumumkan kesepuluh anggota kabinetnya itu pada Minggu (4/11/2012). "Setelah pembahasan dan perembukan panjang, saya mengumumkan kabinet saya yang hanya mencakup sepuluh menteri. Termasuk di antara mereka adalah seorang wanita menteri luar negeri, yang pertama kali dalam sejarah Somalia," kata Abdi Farah.

Pemerintah baru Somalia di bawah Presiden Hassan Sheikh Mohamud, yang mulai menjabat pada September, akan mengakhiri kekuasaan transisi. Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintahan, sementara Somalia dengan dukungan PBB hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu. Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010. Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas. Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Editor :

Inggried Dwi Wedhaswary


Senin, 12 November 2012

Jemaah Keluhkan Layanan Hotel Transit Rotana Jeddah


Jemaah Keluhkan Layanan Hotel Transit Rotana JeddahKompas/Fandri Yuniarti Masjidil Haram, pada Sabtu (10/11/2012) malam, terasa semakin nyaman untuk beribadah, setelah sebagian besar jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia, meninggalkan Mekkah, Arab Saudi, bahkan kembali ke negara masing-masing. Malam itu, jemaah yang melakukan tawaf (mengelilingi Ka'bah), tak sepadat hari-hari sebelumnya. Tempat shalat pun mulai kosong di beberapa lokasi, terutama di lantai tiga masjid suci tersebut.


JEDDAH, KOMPAS.com - Sejumlah jemaah haji kelompok terbang MES-12 Medan, Sumatera Utara, mengeluhkan daya tampung hotel transit Rotana yang terlalu kecil, sehingga mereka berdempetan dalam satu kamar.
M Yunus, mewakili jemaah MES-12 Medan, ketika ditemui di Hotel Rotana di Jeddah, Senin (12/11/2012) dini hari, mengatakan, dalam satu kamar ada yang diisi hingga 17 orang.
Dia lalu mengeluarkan catatan kamar-kamar yang sesak dengan jemaah asal embarkasi Medan itu yakni kamar 807 diisi delapan orang, kamar 808 diisi 17 orang, kamar 809 diisi enam orang, dan kamar 8012 diisi 12 orang.
Jemaah asal Kabupaten Serdang Bedagai yang masuk ke Rotana pada Minggu dini hari, menilai layanan seperti itu tidak layak bagi mereka. Meski hanya transit satu malam di Jeddah, hendaknya kamar yang disediakan layak untuk istirahat dan tidak diisi dipan sebanyak-banyaknya.
Setelah dilakukan pengecekan di kamar bersama, Koordinator Petugas Hotel Rotana, Sumarno, dan Sekretaris Daker Jeddah, Nur Alya Fitra, yang dimaksud kamar diisi 17 tersebut adalah apartemen dua kamar yang diisi masing-masing 11 dan enam orang.
Apartemen dengan kamar tersebut, kata Fitra, dalam bahasa Arab disebut syuga. Sumarno lalu menunjukkan, daftar kamar dan jumlah jemaah yang mengisinya, terdapat enam syuga yang diisi 17 orang.
Meskipun cuma diisi dengan 11 atau delapan orang dalam satu kamar, bisa dikatakan terlalu banyak karena dipan ditata rapat, sehingga hampir seluruh kamar terisi dipan besi dengan kasur busa. Akibatnya, lalu-lalang sulit dilakukan.
Sumarno mengatakan, selayaknya Rotana hanya bisa menerima satu kelompok terbang kecil. Kondisi sesak akan terasa, jika kelompok terbang beranggota besar yang masuk seperti MES-12 Medan yang beranggotakan 455 orang.
Rotana menerima delapan kelompok terbang besar (beranggotakan 450-455 orang). Sisanya beranggotakan 325-350 orang, yang disebut petugas pelayanan haji sebagai kelompok terbang kecil.
Sumarno mengatakan, tidak tau Rotana menerima kelompok terbang besar sehingga jemaah harus bersesakan.
"Kami hanya menerima tugas dan melayani berapapun jemaah yang datang, karena penunjukkan Rotana dan pengaturan kelompok terbang, ada pada bagian lain yang mensurvei sebelum musim haji," kata Sumarno.
Sementara jemaah kelompok terbang BLP-6 Balikpapan yang menempati hotel transit Majlis Al Khalid, jeddah, menyatakan cukup puas dengan pembagian kamar yang diisi 6-7 orang.
M Aksa asal Samarinda, Kalimantan Timur, mengatakan masalah kecil ada pada kebersihan kamar sebelum jemaah masuk. "Perugas sepertinya tidak sempat mengganti seprei, dan membersihkan sampah yang ditinggalkan jamaah sebelumnya," kata Aksa.
Sementara rekan Aksa, bernama Sumarni, mengatakan, dia harus mengepel lantai terlebih dahulu agar terlihat bersih dan nyaman dihuni.
Di hotel transit lain, Madinah Palace, jemaah yang ditemui merasa puas dengan komposisi dan kebersihan kamar.
Ahmadin, anggota kelompok terbang JKS-16, mengatakan, kamarnya diisi enam orang, dan sprei diganti sebelum dia dan jemaah lain datang, AC pun dalam kondisi menyala.
Sekretaris Koordinator Madinah Palace, Agus Widagdo, menambahkan, dia bersama petugas pelayanan haji selalu berusaha mengatur waktu, agar petugas hotel cukup waktu membersih kamar dan mengganti sprei.
Jika ada jemaah yang datang lebih dini, petugas akan meminta mereka tetap di bus atau tidak masuk dalam kamar sebelum dibersihkan. "Kami mengulur waktu, agar jemaah tetap mendapat kamar dan sprei yang bersih," kata Agus.
Di Madinah Palace yang berdaya tampung 1.200 orang, mampu menampung dua kloter besar dan satu kloter kecil.
Sekretaris Daker Jeddah Nur Alya Fitra mengatakan, untuk kasus Rotana dia mempersilakan untuk menanyakan pada tim survei hotel transit.
Namun untuk keluhan jemaah yang datang lebih awal sehingga petugas hotel tidak sempat membersihkan kamar, dia sudah mengimbau dan mengirim nota ke Daker Mekkah agar memberangkatkan jemaah tepat waktu. Itu perlu dilakukan, agar tidak terjadi penumpukan di hotel transit dan memberi waktu pada petugas hotel untuk membersihkan kamar.
"Daker Jeddah sudah mengirim surat dan juga meminta secara lisan, agar jemaah didorong ke Jeddah sesuai jadwal," kata Fitra.
Namun dia juga bisa memahami kondisi psikologis jemaah, ketika melihat bus sudah tiba lebih dini maka keinginan ke Jeddah semakin besar, karena berarti akan semakin dekat untuk pulang ke Tanah Air.
Sementara maktab (pemilik penginapan) di Mekkah juga ingin agar hotelnya segera kosong, karena punya waktu lebih dini untuk membersihkan dan lebih cepat juga mendapatkan sisa pembayaran.
Fitra berharap, jadwal bisa ditepati agar jemaah bisa menginap dan beristirahat lebih nyaman di hotel transit.
Sumber: Antara

Please Visit Us